portaltekno.id — Ambon kembali mencuri perhatian dunia teknologi.
Startup lokal DroneLite Ambon resmi memperkenalkan drone lipat auto-return yang dirancang khusus bagi wisatawan dan fotografer alam.
Produk ini menjadi langkah penting dalam memperkuat ekosistem teknologi wisata di Indonesia Timur.
DroneLite hadir dengan konsep “Smart Travel Aerial” — teknologi yang memungkinkan pengguna menikmati pemandangan alam sambil merekam gambar tanpa repot mengendalikan perangkat.
Dengan fitur otomatis dan desain ringkas, drone ini cocok bagi pelancong yang ingin merekam keindahan pantai, bukit, dan laut Maluku tanpa keahlian teknis tinggi.
“Kami ingin teknologi drone tidak lagi eksklusif. Siapa pun bisa merekam keindahan alam dengan mudah dan aman,” ujar Daniel Pattinama, CEO DroneLite Ambon.
Baca Juga: “EduSync Maluku Rilis Aplikasi Kelas Hibrida Sekolah Terpencil“
DroneLite Ambon Luncurkan Fitur Unggulan yang Ramah Wisatawan
DroneLite menonjol berkat kombinasi desain ringkas dan kecerdasan navigasi otomatis.
Dengan ukuran hanya sebesar tangan saat dilipat, drone ini mudah disimpan di ransel dan dioperasikan tanpa kendali kompleks.
Keunggulan utama DroneLite Ambon:
- 🚁 Auto-Return System: Drone otomatis kembali ke titik lepas landas jika baterai lemah atau sinyal hilang.
- 🌍 GPS Stabilization: Menjaga posisi tetap stabil meski terkena angin laut.
- 📷 Kamera 4K Ultra HD: Hasil gambar tajam, cocok untuk konten kreator dan vlogger.
- 🔋 Baterai Tahan 40 Menit: Ideal untuk perjalanan outdoor atau ekspedisi alam.
- 💡 Gesture Mode: Ambil foto hanya dengan gerakan tangan tanpa remote.
“Kami memprioritaskan kemudahan bagi pengguna pemula, terutama wisatawan yang ingin fokus menikmati momen,” tambah Daniel.
Selain fitur teknis, drone ini juga dilengkapi sistem anti-tabrak berbasis sensor optik agar aman diterbangkan di area ramai seperti pantai wisata dan kawasan hutan kota.
DroneLite Ambon Luncurkan Desain Lipat dan Material Tahan Cuaca
DroneLite dirancang menggunakan material ABS tahan benturan dengan lapisan pelindung air ringan.
Desain lipatnya memungkinkan pengguna membawa perangkat ini ke lokasi wisata tanpa risiko kerusakan.
Menurut Elena Pattiradjawane, desainer utama DroneLite, timnya terinspirasi dari bentuk burung maleo — satwa khas Sulawesi yang lincah dan efisien dalam pergerakan.
“Kami ingin menghadirkan desain yang mencerminkan keindahan timur Indonesia: ringan, fleksibel, dan kuat,” katanya.
Drone ini juga memiliki sensor ketinggian otomatis, membantu pengguna mendapatkan angle sempurna tanpa perlu pengaturan manual rumit.
DroneLite Ambon Dorong Ekonomi Wisata Maluku
Peluncuran drone ini bukan hanya tentang teknologi, tapi juga dukungan terhadap pariwisata daerah.
DroneLite bekerja sama dengan Dinas Pariwisata Maluku untuk mengadakan program “Drone untuk Wisata Hijau” — kampanye yang mengajak wisatawan merekam video tanpa merusak lingkungan.
Beberapa lokasi uji coba DroneLite antara lain:
- Pantai Liang Ambon
- Gunung Salahutu
- Pulau Seram bagian timur
- Teluk Ambon bagian selatan
“Kami ingin drone digunakan secara bertanggung jawab untuk mempromosikan keindahan alam, bukan sekadar hiburan,” ujar Daniel.
Hasil foto dan video dari pengguna terbaik akan dikurasi dan ditampilkan di kanal resmi “Visit Maluku 2025”.
Inisiatif ini diharapkan dapat mendorong minat wisatawan mancanegara datang ke wilayah timur Indonesia.
Teknologi Lokal, Standar Internasional
Meski dikembangkan di Ambon, komponen inti DroneLite memenuhi standar sertifikasi CE dan FCC.
Tim riset bekerja sama dengan beberapa universitas teknik di Makassar dan Surabaya untuk menyempurnakan sistem stabilisasi dan daya tahan baterai.
“Kami membuktikan bahwa inovasi dari daerah bisa bersaing dengan produk global,” ujar Yosef Latupirisa, CTO DroneLite.
Perusahaan juga memastikan seluruh proses perakitan dilakukan di Indonesia, dengan 70% bahan baku berasal dari industri lokal.
Hal ini membuat harga jual DroneLite jauh lebih terjangkau dibandingkan merek asing sekelas DJI Mini atau Autel Nano.
Respons Wisatawan dan Komunitas Drone
Sejak dirilis, DroneLite mendapat sambutan positif dari komunitas fotografi dan pelancong domestik.
Di media sosial, banyak pengguna membagikan hasil rekaman udara pantai Ambon yang menawan.
“Auto-return-nya keren banget! Saya enggak takut drone hilang lagi,” tulis akun @exploremaluku.
Beberapa agen wisata bahkan mulai menawarkan paket “Travel with DroneLite”, di mana wisatawan dapat menyewa drone untuk dokumentasi perjalanan pribadi.
Program ini dianggap menjadi tren baru dalam pariwisata berbasis teknologi.
Langkah Selanjutnya – Drone Ekowisata 2026
DroneLite kini tengah menyiapkan versi terbaru dengan fitur auto-tracking berbasis AI yang mampu mengenali gerakan manusia secara otomatis.
Selain itu, versi baru akan dilengkapi mode eco-flight, yang menyesuaikan daya dan kecepatan untuk mengurangi emisi karbon dari penggunaan baterai.
“Kami percaya drone bisa menjadi bagian dari solusi pariwisata berkelanjutan,” jelas Yosef.
Perusahaan berencana memperluas distribusi ke Bali, Lombok, dan Papua Barat, sekaligus membuka pusat pelatihan drone bagi pemandu wisata lokal.
Refleksi – Teknologi Terbang dari Timur Indonesia
Kehadiran DroneLite Ambon menjadi simbol bahwa inovasi tidak harus datang dari kota besar.
Dengan perpaduan teknologi, desain, dan semangat lokal, startup ini berhasil menciptakan produk yang fungsional sekaligus mendukung promosi wisata daerah.
Drone ini bukan sekadar alat untuk merekam, tapi juga sarana memperkenalkan keindahan alam Maluku ke dunia.
Langkah kecil dari tim muda Ambon ini membuktikan bahwa Indonesia Timur kini siap terbang tinggi — bukan hanya dalam pariwisata, tapi juga dalam teknologi.
Baca Juga: “Mahasiswa ITB Juara 1 Digital World Data Gathering (DWDG) Southeast Asia Business Case Competition 2025“











