portaltekno.id — Inovasi energi kembali hadir dari Jawa Timur. Tim ilmuwan Malang Research Center berhasil menemukan material baterai tanpa kobalt yang diklaim lebih ramah lingkungan, berbiaya rendah, dan memiliki daya simpan energi tinggi. Temuan ini diharapkan menjadi solusi bagi ketergantungan industri terhadap bahan impor yang langka dan mahal.
Penelitian yang dilakukan sejak 2023 ini berfokus pada pengembangan katoda berbasis nikel dan mangan, tanpa menggunakan kobalt sebagai elemen utama. Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa material baru ini mampu mempertahankan efisiensi hingga 95% setelah 1.000 siklus pengisian daya — angka yang setara dengan baterai berteknologi kobalt modern.
“Kami ingin menunjukkan bahwa inovasi material energi tidak hanya bisa lahir dari laboratorium luar negeri. Indonesia punya sumber daya alam dan talenta yang mampu menciptakan baterai masa depan,” ujar Dr. Farhan Maulana, Kepala Riset Malang Research Center, saat konferensi pers di kampus Universitas Negeri Malang.
Baca Juga: “SpaceTech Lampung Rancang Satelit Mini Canggih Monitoring Laut“
Malang Research Center Dengan Latar Belakang: Tantangan Industri Baterai Global
Selama satu dekade terakhir, industri baterai dunia sangat bergantung pada kobalt — logam langka yang sebagian besar ditambang di Afrika Tengah. Selain mahal, penambangan kobalt kerap dikaitkan dengan isu lingkungan dan pelanggaran hak asasi manusia.
Masalah Utama Baterai Berbasis Kobalt
- Harga tinggi: fluktuatif dan mencapai USD 65.000 per ton.
- Pasokan terbatas: 70% produksi dunia berasal dari Republik Demokratik Kongo.
- Isu etika: banyak laporan eksploitasi tenaga kerja anak dalam rantai pasok.
- Dampak lingkungan: proses pemurnian menghasilkan limbah beracun.
Dalam konteks tersebut, temuan Malang Research Center dianggap penting karena membuka peluang besar bagi Indonesia untuk berperan dalam rantai pasok global baterai ramah lingkungan.
Perbandingan Kinerja Material Baterai
| Parameter | Baterai Kobalt | Baterai Tanpa Kobalt (Malang Research Center) |
|---|---|---|
| Daya simpan energi | 220 Wh/kg | 210 Wh/kg |
| Umur pakai | 1.200 siklus | 1.000 siklus |
| Biaya produksi | 100% | 70% dari versi kobalt |
| Keamanan panas | Sedang | Tinggi (lebih stabil) |
| Kandungan logam berat | Tinggi | Rendah |
Dr. Farhan menjelaskan bahwa perbedaan kinerja sangat kecil, namun keuntungan biaya dan keberlanjutan jauh lebih besar. “Kami mengutamakan efisiensi proses dan keberlanjutan lingkungan dibanding sekadar mengejar angka kapasitas,” ujarnya.
Malang Research Center Temukan Teknologi Nikel–Mangan Berbasis Ion Stabil
Material baru ini menggunakan kombinasi nikkel, mangan, dan oksigen (NMO) yang membentuk struktur kristal lebih stabil dibanding katoda berbasis kobalt. Teknologi ini dikembangkan melalui reaksi suhu tinggi dan dikombinasikan dengan nanocoating silikon untuk memperpanjang usia baterai.
Keunggulan Material NMO dari Malang Research Center
- Tahan panas hingga 180°C tanpa mengalami degradasi struktur.
- Mengurangi emisi karbon sebesar 45% selama proses produksi.
- Menggunakan bahan lokal dari tambang nikel Sulawesi dan mangan Kalimantan.
- Dapat didaur ulang lebih mudah dibanding baterai berbasis kobalt.
Menurut Farhan, proses produksi telah disesuaikan dengan fasilitas industri yang ada di Indonesia, sehingga bisa langsung diadopsi oleh pabrik baterai nasional tanpa memerlukan investasi besar untuk peralatan baru.
Kolaborasi dengan Industri dan Pemerintah
Penelitian ini tidak hanya dilakukan di laboratorium akademik, tetapi juga melibatkan kerja sama antara Malang Research Center, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), serta perusahaan swasta nasional di sektor energi.
Bentuk Kolaborasi Strategis
- Pengujian pra-industri: bekerja sama dengan PT Energi Nusantara untuk simulasi produksi massal.
- Pendanaan riset hijau: dukungan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
- Pilot project kendaraan listrik: integrasi dengan baterai motor listrik buatan lokal.
- Program edukasi energi bersih: pelatihan bagi mahasiswa teknik elektro di Jawa Timur.
Kementerian ESDM menyebut proyek ini sejalan dengan peta jalan transisi energi nasional yang menargetkan 60% kendaraan listrik di jalan raya pada 2035.
Dampak Ekonomi dan Lingkungan
Temuan Malang Research Center berpotensi menghemat hingga 30% biaya produksi baterai nasional, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan mentah. Selain itu, penggunaan material lokal memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen nikel terbesar di dunia.
Dampak Langsung bagi Indonesia
- Peningkatan nilai tambah industri nikel lokal.
- Peluang ekspor material baterai non-kobalt ke Asia Tenggara.
- Penurunan emisi karbon industri hingga 25% pada 2030.
- Lapangan kerja baru di sektor manufaktur dan riset energi hijau.
Menurut analisis tim, jika diproduksi massal, teknologi ini mampu menghemat hingga Rp4 triliun per tahun dari impor bahan baku baterai berbasis kobalt.
Visi Menuju Kemandirian Energi Nasional
Dr. Farhan menegaskan bahwa temuan ini hanyalah langkah awal menuju penguasaan teknologi baterai secara utuh. “Kami ingin Indonesia tidak hanya menjadi penyuplai bahan mentah, tapi juga pemain utama dalam inovasi material energi,” katanya.
Malang Research Center kini sedang menyiapkan prototipe baterai tanpa kobalt untuk skala industri kecil-menengah (IKM), terutama bagi produsen sepeda listrik dan penyimpanan energi rumah tangga. Targetnya, produk ini siap uji pasar pada 2026.
Jika berhasil, Indonesia dapat menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang memproduksi baterai bebas kobalt secara mandiri, sejalan dengan tren global menuju energi hijau dan ekonomi berkelanjutan.
Baca Juga: “Nvidia Ikut Beri Suntikan Dana Rp 14,2 Triliun, Startup Teknologi India Kebanjiran Modal“











