portaltekno.id — Kota masa depan kini mulai terwujud di pesisir utara Jawa Barat.
Perusahaan pengembang TerraCity Cirebon resmi memperkenalkan konsep kota vertikal mandiri energi yang dirancang sebagai pusat pariwisata, hunian, dan bisnis hijau pertama di Indonesia bagian barat.
Peluncuran proyek ini berlangsung di Cirebon Future Hall pada Senin (11/11), dihadiri oleh pejabat pemerintah, pengusaha, dan komunitas arsitektur hijau.
“Kami ingin membangun kota yang berdiri tegak tanpa meninggalkan bumi.
TerraCity adalah wujud dari harmoni antara teknologi dan keberlanjutan,” ujar Rico Adyatma, CEO TerraCity Cirebon.
Baca Juga: “DroneLite Ambon Luncurkan Drone Lipat Auto-Return Wisatawan“
🏙️ TerraCity Cirebon Kenalkan Kota Vertikal Pertama dengan Energi Mandiri
Kota vertikal ini berdiri di lahan seluas 85 hektar di kawasan Cirebon Utara.
Strukturnya berupa menara bertingkat tinggi yang menggabungkan ruang hunian, taman, area bisnis, dan fasilitas publik dalam satu ekosistem terpadu.
Setiap bangunan dilengkapi panel surya, sistem daur ulang air hujan, dan pendingin berbasis energi geotermal.
Semua sistem diatur otomatis oleh AI eco-grid, membuat kota ini mampu menghasilkan energi 110% dari kebutuhan harian.
“Energi berlebih kami gunakan untuk penerangan jalan dan fasilitas umum.
Kota ini bisa bertahan mandiri bahkan saat listrik konvensional padam,” jelas Rico.
Transportasi dalam kawasan juga ramah lingkungan.
Kendaraan berbahan bakar fosil dilarang masuk.
Sebagai gantinya, tersedia sky tram, shuttle listrik, dan e-scooter untuk warga serta wisatawan.
🌿 TerraCity Cirebon Dengan Desain Hijau dengan Sentuhan Budaya Lokal
Konsep arsitektur TerraCity dikembangkan oleh Studio ArchiGreen Tokyo bersama arsitek lokal Cirebon.
Bangunan utama berbentuk spiral yang mengelilingi taman vertikal raksasa setinggi 300 meter.
Setiap lantai memiliki taman hidroponik, area bermain anak, dan ventilasi alami.
Sinar matahari difilter oleh dinding kaca hemat energi agar suhu ruangan tetap sejuk tanpa pendingin berlebih.
“Kami ingin menghadirkan nuansa tropis Indonesia di tengah arsitektur modern,” ujar Kenji Mori, kepala arsitek proyek.
Selain menara hunian, TerraCity membangun Green Plaza, area publik berisi pasar organik, galeri seni lokal, dan kafe tanpa plastik sekali pakai.
Wisatawan dapat menikmati SkyPark View 120, taman udara di lantai 40 dengan panorama laut Cirebon dan Gunung Ciremai.
⚡ Teknologi Energi Terpadu
Kota vertikal ini menggabungkan tiga sumber energi utama: surya, angin, dan biomassa.
Sistem tersebut dikontrol oleh TerraGrid, platform digital yang menyeimbangkan produksi dan konsumsi daya secara otomatis.
Beberapa teknologi unggulan yang digunakan antara lain:
- Solar Canopy Network, atap surya di seluruh menara.
- Wind Belt System, turbin angin mini untuk area pesisir.
- BioFuel Smart Plant, fasilitas konversi limbah organik menjadi bahan bakar.
- AI Monitoring Hub, pusat kontrol energi dan pencahayaan digital.
“Semua penghuni bisa memantau konsumsi energinya melalui aplikasi TerraLife.
Setiap rumah menjadi bagian dari sistem yang saling berbagi,” tambah Rico.
Berkat teknologi ini, TerraCity mampu beroperasi tanpa pasokan listrik luar hingga tiga hari penuh, menjadikannya model smart community mandiri energi di Indonesia.
🎠 Pariwisata Modern Berbasis Edukasi
Selain kawasan hunian, TerraCity dikembangkan sebagai destinasi wisata teknologi dan lingkungan.
Wisatawan dapat mengunjungi EcoDome Park, taman interaktif dengan simulasi perubahan iklim dan edukasi energi terbarukan.
“Kami ingin wisatawan tidak hanya berfoto, tapi juga belajar tentang cara hidup hijau,” ujar Rizka Lestari, Public Relations TerraCity.
Kawasan ini juga memiliki SkyFarm Restaurant, restoran rooftop yang menggunakan sayuran hasil panen hidroponik dari menara.
Di malam hari, area taman udara berubah menjadi ruang pertunjukan musik akustik dengan pencahayaan tenaga surya.
TerraCity bekerja sama dengan komunitas seni Cirebon untuk menghadirkan mural bertema “Manusia dan Alam”.
Karya ini menjadi simbol keseimbangan antara kemajuan dan keberlanjutan.
💼 Dampak Ekonomi dan Dukungan Pemerintah
Pemerintah Kota Cirebon mendukung penuh proyek ini.
TerraCity diperkirakan membuka 8.000 lapangan kerja baru di bidang konstruksi, teknologi, dan pariwisata.
“Inisiatif ini membuktikan bahwa pembangunan ekonomi bisa sejalan dengan pelestarian lingkungan,” ujar Dr. Hendra Saputra, Wali Kota Cirebon.
Proyek ini juga menarik investasi asing dari Jepang, Singapura, dan Uni Emirat Arab.
Total nilai investasi mencapai Rp4,3 triliun, menjadikannya proyek properti hijau terbesar di pantai utara Jawa.
Selain dampak ekonomi, TerraCity juga menjadi pusat riset energi terbarukan.
Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ) Cirebon telah menandatangani nota kerja sama untuk riset panel surya modular dan baterai daur ulang.
🚀 Visi Masa Depan Kota Hijau Indonesia
Tahap pertama proyek dijadwalkan selesai pada akhir 2026, mencakup tiga menara hunian, Green Plaza, dan pusat energi mandiri.
Tahap kedua akan menambahkan resor terapung tenaga surya di pesisir Cirebon.
“Kami tidak hanya membangun gedung, tapi peradaban baru yang sadar energi,” tutup Rico.
Dengan kombinasi teknologi hijau, arsitektur tropis, dan potensi wisata, TerraCity Cirebon siap menjadi ikon kota vertikal berkelanjutan dan inspirasi bagi pengembangan kota pintar di Indonesia.
Baca Juga: “Komdigi: Perempuan harus ikut menentukan arah masa depan digital“











