portaltekno.id — Kota Solo kembali menjadi pusat perhatian dengan lahirnya inovasi baru dalam teknologi kota cerdas.
Startup lokal UrbanSense Solo resmi meluncurkan sistem sensor pintar deteksi kebisingan yang akan dipasang di berbagai titik strategis kota.
Langkah ini merupakan bagian dari program Smart Environment dalam visi Solo sebagai kota modern berbasis data.
“Kami ingin menjadikan Solo lebih nyaman dan responsif terhadap kebutuhan warganya. Salah satu tantangan utama di kota padat adalah kebisingan,” ujar Rendra Wijaya, CEO UrbanSense.
Sensor ini mampu memantau tingkat kebisingan secara real-time dan mengirim data langsung ke pusat kontrol kota untuk dianalisis.
Baca Juga: “NetInfra Bali Luncurkan Jaringan 6G Percobaan di Kalimantan“
UrbanSense Solo Bangun Teknologi yang Jadi Ujung Tombak Smart City
UrbanSense mengembangkan perangkat sensor dengan basis IoT (Internet of Things) yang dilengkapi mikrofon digital presisi tinggi.
Setiap unit mampu mendeteksi frekuensi suara mulai dari 30 hingga 130 desibel — mencakup suara kendaraan, aktivitas pasar, hingga area konstruksi.
Fitur utama sensor UrbanSense:
- 🔊 Deteksi Real-Time: mengirim data langsung ke cloud setiap detik.
- 🌆 Integrasi Peta Akustik Kota: menampilkan titik kebisingan dalam peta visual interaktif.
- ⚙️ Analisis Pola Harian: sistem AI mengenali jam puncak kebisingan.
- 🌿 Dukungan Energi Surya: sensor beroperasi mandiri tanpa jaringan listrik konvensional.
“Sensor ini bukan hanya alat ukur, tapi juga sumber data yang bisa membantu kebijakan publik,” jelas Rendra.
Teknologi ini telah diuji coba di sepanjang Jalan Slamet Riyadi dan area sekitar Pasar Gede. Hasilnya menunjukkan kemampuan sistem dalam membedakan antara suara kendaraan, musik, dan aktivitas manusia dengan akurasi hingga 95%.
UrbanSense Solo Berikan Manfaat Bagi Pemerintah dan Warga
Implementasi sensor UrbanSense membuka peluang besar untuk pengelolaan kota berbasis data.
Melalui dashboard digital, pemerintah dapat memantau area dengan tingkat kebisingan tinggi dan mengambil langkah penataan ruang atau pengaturan lalu lintas.
Beberapa manfaat yang ditargetkan:
- Mengidentifikasi titik rawan kebisingan untuk perbaikan tata ruang.
- Mengatur waktu operasional kegiatan publik di area padat.
- Membantu perencanaan taman kota dan jalur hijau.
- Mendorong kesadaran warga tentang polusi suara.
“Data akustik bisa jadi dasar kebijakan lingkungan. Kebisingan yang berlebihan terbukti berdampak pada kesehatan mental,” ungkap Dr. Laila Pramudita, pakar lingkungan Universitas Sebelas Maret.
Dengan data ini, Pemkot Solo dapat menyesuaikan kebijakan zona tenang seperti di area sekolah, rumah sakit, dan taman kota.
H3: Kolaborasi Riset dan Komunitas
UrbanSense bekerja sama dengan Universitas Sebelas Maret (UNS) dan komunitas SoloTech Innovators untuk mengembangkan sistem data terbuka.
Mahasiswa dilibatkan dalam analisis pola kebisingan dan pembuatan sound map interaktif yang dapat diakses publik melalui situs resmi SmartCity.Solo.go.id.
Program kolaborasi mencakup:
- 📊 Pelatihan analisis data lingkungan bagi mahasiswa teknik dan geografi.
- 🎧 Proyek penelitian tentang hubungan kebisingan dan stres masyarakat.
- 💬 Diskusi publik tentang pentingnya ruang tenang di perkotaan.
“Kami ingin warga ikut terlibat, bukan hanya sebagai penerima data, tapi juga penggerak perubahan,” ujar Rendra.
Kolaborasi ini menjadikan proyek UrbanSense bukan sekadar proyek teknologi, melainkan gerakan sosial menuju kualitas hidup urban yang lebih baik.
H3: Dukungan Pemerintah dan Dampak Ekonomi
Pemerintah Kota Solo mendukung penuh inisiatif UrbanSense.
Melalui Dinas Komunikasi dan Informatika, proyek ini akan diintegrasikan dengan sistem Solo Smart Center yang sudah lebih dulu mengelola data CCTV dan lalu lintas.
“Kita akan jadikan data kebisingan sebagai indikator baru dalam indeks kualitas lingkungan kota,” jelas Riyanto Nugroho, Kepala Dinas Kominfo Solo.
Selain manfaat lingkungan, proyek ini juga menumbuhkan ekonomi lokal.
UrbanSense memproduksi perangkat sensor di dalam negeri, bekerja sama dengan pabrikan elektronik Solo TechLab, sehingga membuka lapangan kerja baru bagi teknisi dan perakit lokal.
Dampak ekonomi yang diharapkan:
- Tumbuhnya industri perangkat IoT lokal.
- Meningkatnya permintaan akan tenaga ahli data dan elektronika.
- Potensi ekspor teknologi sensor ke kota lain di Indonesia.
H3: Menuju Kota Data dan Kesadaran Baru
UrbanSense berencana memperluas jaringan sensor hingga 150 titik di seluruh wilayah Solo pada tahun 2026.
Tahap berikutnya akan mencakup deteksi polusi udara, suhu mikro, dan kepadatan lalu lintas dengan sistem integrasi data lintas parameter.
“Tujuan akhirnya adalah menciptakan kota yang bisa ‘mendengar’ warganya — secara harfiah,” kata Rendra sambil tersenyum.
Dengan pendekatan berbasis data, kebijakan perkotaan di masa depan akan lebih presisi dan manusiawi.
Warga tidak lagi hanya menjadi objek pembangunan, melainkan bagian dari sistem yang sadar terhadap lingkungannya.
Refleksi – Ketika Kota Belajar dari Suaranya Sendiri
UrbanSense Solo mengajarkan bahwa kota cerdas bukan hanya tentang teknologi, tetapi tentang empati dan keseimbangan.
Dengan mendengarkan suara warganya — baik secara metaforis maupun akustik — Solo menapaki langkah baru menuju masa depan urban yang sehat dan berkelanjutan.
Sensor kebisingan hanyalah awal.
Namun dari sinilah, transformasi menuju kota yang lebih tenang, manusiawi, dan berdaya data dimulai
Baca Juga: “Ulasan Oppo Find X9 Pro: Pembunuh Raksasa Android“









